Ada Lima Bahasa Daerah Nusantara Musnah (Atau 11 ? Atau Lebih Banyak Lagi?), Tiga Bahasa Daerah Musnah Di Maluku
Ambon, 28/11/2025
Provinsi
Maluku menghadapi krisis budaya parah. Kepala Balai Bahasa Provinsi
Maluku, Kity Karenisa, S.S., M.M., menyampaikan bahwa tiga bahasa daerah
di Maluku resmi dinyatakan punah. Punahnya tiga bahasa Daerah ini
merupakan bagian dari lima bahasa daerah di seluruh Indonesia yang telah
dinyatakan hilang selamanya.
Baca Lebih Lanjut Di Informatika News Line
Tiga bahasa Daerah Maluku yang
kini tinggal sejarah dan memicu keprihatinan serius itu adalah Bahasa
Kayeli (Kabupaten Buru), Bahasa Hoti (Kabupaten Maluku Tengah), dan
Bahasa Piru (Kabupaten Seram Bagian Barat).
“Dari
113 bahasa daerah di Indonesia ada 5 Bahasa Daerah yang dinyatakan
punah. Dan, 3 diantaranya bahasa daerah di Maluku,” kata Kity Karenisa
kepada pers di Kantor Balai Bahasa Provinsi Maluku, Nania, Jumat (28
November 2025).
Data yang disampaikan oleh Balai Bahasa Provinsi Maluku ini, sebenarnya masih terlalu sedikit dibandingkan dengan data Badan Bahasa pada tahun 2019 (13/02/2019) yang lalu. Badan Bahasa Kementerian Pendidikan justru mencatat ada 750 buah bahasa yang ada di Indonesia, bukan hanya sekedar 113 bahasa saja. Sebanyak 668 Bahasa Daerah telah berhasil didokumentasikan, sementara sisanya masih belum diketahui detail kondisinya. Pada tahun yang sama disampaikan juga oleh Badan Bahasa bahwa ada 11 bahasa daerah yang telah punah pada saat itu. Data ini disampaikan oleh Dadan Sunendar (13/02/2019) pada saat acara Rembuk Nasional Pendidikan Dan Kebudayaan.
Simpang siur dan ketidakpastian data yang sama-sama dimiliki oleh aparatur negara ini menunjukkan kacaunya manajemen perlindungan Bahasa Daerah di Indonesia, atau bahkan menunjukkan betapa tidak terlalu seriusnya penanganan perlindungan bahasa daerah di Indonesia, bahkan oleh pemerintah sendiri. Datanya berbeda-beda dan tidak jelas. Disampaikan dalam konteks yang juga tidak jelas membuat ancaman terhadap kepunahan yang lebih besar bisa terjadi di depan mata.
Paling
tidak kondisi ini juga juga disadari oleh Balai Bahasa Provinsi Maluku,
kondisi kepunahan ini tidak berhenti begitu saja. Ancaman hilangnya
Bahasa Daerah ini masih menghantui bahasa daerah lainnya. Disamping
kesimpang siuran data jumlah Bahasa Daerah, ancaman kepunahan juga
muncul lebih nyata di lapangan.
Banyak
bahasa daerah di Indonesia saat ini berada dalam status mengalami
kemunduran, terancam punah, atau kritis. Balai Bahasa menilai adanya
program perluasan survei vitalitas bahasa, menjadi program yang sangat
penting dilakukan untuk memetakan risiko yang dihadapi oleh ratusan
bahasa daerah yang masih tertinggal.
"Kami sebenarnya punya
ketakutan, kalau bagian vitalitas ini lebih luas lagi. Apakah, baru tiga
bahasa daerah yang sudah dinyatakan punah. Tapi bagian vitalitasnya,
baru terbatas di tiga bahasa daerah ini (yang sudah punah)," kata Kity
sambil menekankan bahwa kondisi di lapangan mungkin lebih genting dari
data yang ada.
Menyikapi krisis ini, Balai Bahasa Provinsi Maluku
telah mengambil langkah proaktif dengan menyampaikan keprihatinan ini
kepada Pemerintah Daerah (Pemda). Kerja sama konkret sudah terjalin
dengan Pemkab Maluku Tengah, sementara dorongan terus dilakukan agar
Pemkab Seram Bagian Barat (SBB) turut berpartisipasi aktif.
Kity Karenisa menegaskan bahwa solusi utamanya ada pada proses pewarisan bahasa antar generasi.
"Kalau
opa oma tidak cepat menurunkan bahasa daerah kepada kepada anaknya dan
kepada cucunya, bahasa daerah itu dipastikan akan hilang," kata Kity
prihatin
Balai Bahasa menyatakan kesiapan mereka untuk bertindak
sebagai konsultan ilmiah. Kity menyatakan bahwa Balai Bahasa memiliki
metode dan cara untuk membantu meningkatkan kemampuan berbahasa daerah.
Namun, Kity kembali menekankan bahwa upaya penyelamatan ini harus
menjadi gerakan masif dari semua elemen masyarakat.
"Tidak bisa
hanya dilakukan oleh Balai Bahasa saja. Semua punya keinginan kuat harus
berbahasa daerah," kata Kity. Kepada media cetak dan elektronik, Kity
juga berharap agar media ikut menyuarakan dan menyadarkan Pemda,
keluarga, dan komunitas untuk giat kembali aktif menggunakan bahasa
daerah.
Salah satu program serius yang saat ini digelar adalah
Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD). Program RBD di Maluku ini
telah dilaksanakan secara konsisten selama empat tahun. Pada tahun 2022,
sudah dilakukan direvitalisasi tiga bahasa; tahun 2023 diperluas
menjadi lima bahasa; dan pada tahun 2025 fokus pada enam bahasa baru,
dan direncanakan program ini akan diteruskan berkelanjutan dengan
implementasi melalui RBD Model C yang berbasis sekolah.
Program
RBD Model C ini menargetkan total 113 sekolah (96 SD dan 17 SMP) pada
tahun 2025. Implementasi RBD ini juga berjalan melalui serangkaian
tahapan sistematis, yang dimulai sejak Juni 2025 dengan Rapat Koordinasi
dan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT), dilanjutkan dengan Bimbingan
Teknis Pengajar Utama pada Juli–Agustus lalu. Pembelajaran
Ekstrakurikuler di sekolah dari Agustus–Oktober 2025, Pemantauan dan
Evaluasi, hingga puncaknya Festival Tunas Bahasa Ibu di tingkat
kabupaten dan provinsi.
Berdasarkan data Balai Bahasa Provinsi
Maluku, dampak program RBD ini sangat luas, yakni melibatkan 262 orang
Pengajar Utama dan 954 Guru. Secara keseluruhan, terdapat 5.112 siswa SD
dan SMP sebagai sasaran utama pembelajaran, dengan perkiraan dapat
memberikan imbas dan dampak kepada 8.770 warga lai di lingkungan sosial
siswa.
Salah satu program lain yang dilakukan untuk menghentikan
musnahnya bahasa daerah ini adalah penyelenggaraan Festival Tunas
Bahasa Ibu (FTBI) Provinsi Maluku Tahun 2025 yang menjadi puncak dari
Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD).
FTBI digelar dari
tanggal 23 hingga 30 November 2025, dengan acara puncak pada Sabtu
malam, 29 November 2025, di Gedung Pertunjukan Balai Bahasa Provinsi
Maluku. FTBI ini mengusung tema : “Dari Bibir Ibu ke Hati Anak, Bahasa
Daerah Tumbuh di Rumah, Bersemi di Nusantara.”
Menurut
Koordinator FTBI Maluku 2025, David Rici Ricardo, S.S., tema ini dipilih
untuk menanamkan kembali gagasan bahwa kelestarian bahasa daerah
berakar dari interaksi di rumah.
“Dari tutur lembut para ibu,
benih kecintaan anak terhadap bahasa daerah mulai tumbuh, berkembang dan
bersemi. Setiap kata yang diucapkan di rumah menjadi fondasi yang
memperkaya identitas dan jati diri anak, sekaligus meneguhkan
keterikatan mereka dengan akar budaya Nusantara,” kata David.
FTBI
2025 diharapkan dapat menjadi wadah bagi siswa SD dan SMP untuk
menunjukkan capaian belajar mereka dalam Revitalisasi Bahasa Daerah
(RBD) melalui enam mata lomba: menulis cerita pendek, menyanyi nyanyian
rakyat, lawakan tunggal (stand up comedy), berpidato, menulis dan
membaca puisi, serta mendongeng.
FTBI Provinsi Maluku ini juga
berfokus pada penguatan enam bahasa daerah di empat kabupaten pelaksana,
yakni Bahasa Hitu di Kabupaten Maluku Tengah, Bahasa Seran (Seram) dan
Bahasa Elnama di Kabupaten Seram Bagian Timur, Bahasa Tarangan Barat
dan Bahasa Manombai (Ganabai) di Kepulauan Aru, serta Bahasa Moa di
Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD).
Konsep FTBI 2025 dibuat lebih
menarik dan kolaboratif. Berbeda dari FTBI tahun sebelumnya, para
pemenang tingkat kabupaten berkolaborasi dalam satu pertunjukan drama
epik berjudul “Negeri Bahasa”.
Pertunjukan ini memadukan tuturan
enam bahasa daerah yang direvitalisasi, Bahasa Melayu Ambon, serta
Bahasa Indonesia sebagai narasi pemersatu. Kegiatan ini selain
menyajikan seni berbahasa, juga merupakan perayaan atas kekayaan dan
keberagaman bahasa daerah di Negeri Raja-Raja, Maluku.
Acara
puncak FTBI turut dihadiri tokoh-tokoh penting, diantarannya adalah Drs.
Imam Budi Utomo, M.Hum., Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, dan
juga hadir perwakilan dari DPD RI, Ibu Ana Latuconsina. Kehadiran mereka
menegaskan pengakuan dan dukungan pemerintah pusat terhadap upaya
konservasi bahasa di Maluku (TNTW)
Ada Lima Bahasa Daerah Nusantara Musnah (Atau 11 ? Atau Lebih Banyak Lagi?), Tiga Bahasa Daerah Musnah Di Maluku
Ambon, 28/11/2025
Provinsi
Maluku menghadapi krisis budaya parah. Kepala Balai Bahasa Provinsi
Maluku, Kity Karenisa, S.S., M.M., menyampaikan bahwa tiga bahasa daerah
di Maluku resmi dinyatakan punah. Punahnya tiga bahasa Daerah ini
merupakan bagian dari lima bahasa daerah di seluruh Indonesia yang telah
dinyatakan hilang selamanya.
Tiga bahasa Daerah Maluku yang
kini tinggal sejarah dan memicu keprihatinan serius itu adalah Bahasa
Kayeli (Kabupaten Buru), Bahasa Hoti (Kabupaten Maluku Tengah), dan
Bahasa Piru (Kabupaten Seram Bagian Barat).
“Dari
113 bahasa daerah di Indonesia ada 5 Bahasa Daerah yang dinyatakan
punah. Dan, 3 diantaranya bahasa daerah di Maluku,” kata Kity Karenisa
kepada pers di Kantor Balai Bahasa Provinsi Maluku, Nania, Jumat (28
November 2025).
Data yang disampaikan oleh Balai Bahasa Provinsi Maluku ini, sebenarnya masih terlalu sedikit dibandingkan dengan data Badan Bahasa pada tahun 2019 (13/02/2019) yang lalu. Badan Bahasa Kementerian Pendidikan justru mencatat ada 750 buah bahasa yang ada di Indonesia, bukan hanya sekedar 113 bahasa saja. Sebanyak 668 Bahasa Daerah telah berhasil didokumentasikan, sementara sisanya masih belum diketahui detail kondisinya. Pada tahun yang sama disampaikan juga oleh Badan Bahasa bahwa ada 11 bahasa daerah yang telah punah pada saat itu. Data ini disampaikan oleh Dadan Sunendar (13/02/2019) pada saat acara Rembuk Nasional Pendidikan Dan Kebudayaan.
Simpang siur dan ketidakpastian data yang sama-sama dimiliki oleh aparatur negara ini menunjukkan kacaunya manajemen perlindungan Bahasa Daerah di Indonesia, atau bahkan menunjukkan betapa tidak terlalu seriusnya penanganan perlindungan bahasa daerah di Indonesia, bahkan oleh pemerintah sendiri. Datanya berbeda-beda dan tidak jelas. Disampaikan dalam konteks yang juga tidak jelas membuat ancaman terhadap kepunahan yang lebih besar bisa terjadi di depan mata.
Paling
tidak kondisi ini juga juga disadari oleh Balai Bahasa Provinsi Maluku,
kondisi kepunahan ini tidak berhenti begitu saja. Ancaman hilangnya
Bahasa Daerah ini masih menghantui bahasa daerah lainnya. Disamping
kesimpang siuran data jumlah Bahasa Daerah, ancaman kepunahan juga
muncul lebih nyata di lapangan.
Banyak
bahasa daerah di Indonesia saat ini berada dalam status mengalami
kemunduran, terancam punah, atau kritis. Balai Bahasa menilai adanya
program perluasan survei vitalitas bahasa, menjadi program yang sangat
penting dilakukan untuk memetakan risiko yang dihadapi oleh ratusan
bahasa daerah yang masih tertinggal.
"Kami sebenarnya punya
ketakutan, kalau bagian vitalitas ini lebih luas lagi. Apakah, baru tiga
bahasa daerah yang sudah dinyatakan punah. Tapi bagian vitalitasnya,
baru terbatas di tiga bahasa daerah ini (yang sudah punah)," kata Kity
sambil menekankan bahwa kondisi di lapangan mungkin lebih genting dari
data yang ada.
Menyikapi krisis ini, Balai Bahasa Provinsi Maluku
telah mengambil langkah proaktif dengan menyampaikan keprihatinan ini
kepada Pemerintah Daerah (Pemda). Kerja sama konkret sudah terjalin
dengan Pemkab Maluku Tengah, sementara dorongan terus dilakukan agar
Pemkab Seram Bagian Barat (SBB) turut berpartisipasi aktif.
Kity Karenisa menegaskan bahwa solusi utamanya ada pada proses pewarisan bahasa antar generasi.
"Kalau
opa oma tidak cepat menurunkan bahasa daerah kepada kepada anaknya dan
kepada cucunya, bahasa daerah itu dipastikan akan hilang," kata Kity
prihatin
Balai Bahasa menyatakan kesiapan mereka untuk bertindak
sebagai konsultan ilmiah. Kity menyatakan bahwa Balai Bahasa memiliki
metode dan cara untuk membantu meningkatkan kemampuan berbahasa daerah.
Namun, Kity kembali menekankan bahwa upaya penyelamatan ini harus
menjadi gerakan masif dari semua elemen masyarakat.
"Tidak bisa
hanya dilakukan oleh Balai Bahasa saja. Semua punya keinginan kuat harus
berbahasa daerah," kata Kity. Kepada media cetak dan elektronik, Kity
juga berharap agar media ikut menyuarakan dan menyadarkan Pemda,
keluarga, dan komunitas untuk giat kembali aktif menggunakan bahasa
daerah.
Salah satu program serius yang saat ini digelar adalah
Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD). Program RBD di Maluku ini
telah dilaksanakan secara konsisten selama empat tahun. Pada tahun 2022,
sudah dilakukan direvitalisasi tiga bahasa; tahun 2023 diperluas
menjadi lima bahasa; dan pada tahun 2025 fokus pada enam bahasa baru,
dan direncanakan program ini akan diteruskan berkelanjutan dengan
implementasi melalui RBD Model C yang berbasis sekolah.
Program
RBD Model C ini menargetkan total 113 sekolah (96 SD dan 17 SMP) pada
tahun 2025. Implementasi RBD ini juga berjalan melalui serangkaian
tahapan sistematis, yang dimulai sejak Juni 2025 dengan Rapat Koordinasi
dan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT), dilanjutkan dengan Bimbingan
Teknis Pengajar Utama pada Juli–Agustus lalu. Pembelajaran
Ekstrakurikuler di sekolah dari Agustus–Oktober 2025, Pemantauan dan
Evaluasi, hingga puncaknya Festival Tunas Bahasa Ibu di tingkat
kabupaten dan provinsi.
Berdasarkan data Balai Bahasa Provinsi
Maluku, dampak program RBD ini sangat luas, yakni melibatkan 262 orang
Pengajar Utama dan 954 Guru. Secara keseluruhan, terdapat 5.112 siswa SD
dan SMP sebagai sasaran utama pembelajaran, dengan perkiraan dapat
memberikan imbas dan dampak kepada 8.770 warga lai di lingkungan sosial
siswa.
Salah satu program lain yang dilakukan untuk menghentikan
musnahnya bahasa daerah ini adalah penyelenggaraan Festival Tunas
Bahasa Ibu (FTBI) Provinsi Maluku Tahun 2025 yang menjadi puncak dari
Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD).
FTBI digelar dari
tanggal 23 hingga 30 November 2025, dengan acara puncak pada Sabtu
malam, 29 November 2025, di Gedung Pertunjukan Balai Bahasa Provinsi
Maluku. FTBI ini mengusung tema : “Dari Bibir Ibu ke Hati Anak, Bahasa
Daerah Tumbuh di Rumah, Bersemi di Nusantara.”
Menurut
Koordinator FTBI Maluku 2025, David Rici Ricardo, S.S., tema ini dipilih
untuk menanamkan kembali gagasan bahwa kelestarian bahasa daerah
berakar dari interaksi di rumah.
“Dari tutur lembut para ibu,
benih kecintaan anak terhadap bahasa daerah mulai tumbuh, berkembang dan
bersemi. Setiap kata yang diucapkan di rumah menjadi fondasi yang
memperkaya identitas dan jati diri anak, sekaligus meneguhkan
keterikatan mereka dengan akar budaya Nusantara,” kata David.
FTBI
2025 diharapkan dapat menjadi wadah bagi siswa SD dan SMP untuk
menunjukkan capaian belajar mereka dalam Revitalisasi Bahasa Daerah
(RBD) melalui enam mata lomba: menulis cerita pendek, menyanyi nyanyian
rakyat, lawakan tunggal (stand up comedy), berpidato, menulis dan
membaca puisi, serta mendongeng.
FTBI Provinsi Maluku ini juga
berfokus pada penguatan enam bahasa daerah di empat kabupaten pelaksana,
yakni Bahasa Hitu di Kabupaten Maluku Tengah, Bahasa Seran (Seram) dan
Bahasa Elnama di Kabupaten Seram Bagian Timur, Bahasa Tarangan Barat
dan Bahasa Manombai (Ganabai) di Kepulauan Aru, serta Bahasa Moa di
Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD).
Konsep FTBI 2025 dibuat lebih
menarik dan kolaboratif. Berbeda dari FTBI tahun sebelumnya, para
pemenang tingkat kabupaten berkolaborasi dalam satu pertunjukan drama
epik berjudul “Negeri Bahasa”.
Pertunjukan ini memadukan tuturan
enam bahasa daerah yang direvitalisasi, Bahasa Melayu Ambon, serta
Bahasa Indonesia sebagai narasi pemersatu. Kegiatan ini selain
menyajikan seni berbahasa, juga merupakan perayaan atas kekayaan dan
keberagaman bahasa daerah di Negeri Raja-Raja, Maluku.
Acara
puncak FTBI turut dihadiri tokoh-tokoh penting, diantarannya adalah Drs.
Imam Budi Utomo, M.Hum., Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, dan
juga hadir perwakilan dari DPD RI, Ibu Ana Latuconsina. Kehadiran mereka
menegaskan pengakuan dan dukungan pemerintah pusat terhadap upaya
konservasi bahasa di Maluku (TNTW)




0 Komentar