Tidak Punya Road Map Perlindungan, Pemerintah Kembali Gagal Lindungi Warga, Saat Yasid Ditemukan Meninggal Di Kaki Bukit Mongkrang
Oleh
Al Ghifari Wijaya
Tahun baru 2026 baru berjalan 40 harian, tapi sejumlah pendaki Gunung berguguran, dan menghembuskan nafas terakhir di tempat yang seharusnya menjadi tempat wisata yang indah. Selain Yasid (26) yang hilang dan ditemukan Selasa (10/02) kemarin di Bukit Mongkrang. Ada juga Syafiq Ridan Ali Razan (18), asal Magelang yang juga hilang selama 17 hari, dan ditemukan meninggal pada 14 Januari 2026 di Gunung Slamet.
Solo, Informatika News Line, 12/02/2026
Akhirnya setelah berhari-hari mencari, jasad Yasid pun, ditemukan di aliran sungai di bawah Bukit Mongkrang, Selasa (10/02) kemarin. Yang berhasil menemukan, team pecinta alam Wanadri dari Bandung. Sementara itu team dari Jawa Tengah dan Jawa Timur gagal menemukan pendaki muda yang tiba-tiba hilang begitu saja.
Baca Lebih Lengkap Di Informatika News Line
Lihat Link Lengkap Di Bawah Ini
http://www.informatikanewsline.my.id/2026/02/tidak-punya-road-map-perlindungan.html
Berbagai
kegiatan ritual klenik sempat digelar untuk mencari Yasid di awal
proses pencarian.Beberapa yang suka dengan klenik mengusulkan untuk
melepaskan bebek atau jenis hewan lain, agar jin penjaga gunung atau
Genderuwo penjaga gunung, atau mungkin Siluman yang menyembunyikan Yasid
melepaskannya.
Karena
dibandingkan menggunakan perkiraan logika murni, para team pencari dari
Jawa Tengah dan Jawa Timur ini lebih suka bermain klenik. Dan terbukti
permainan klenik pun gagal menemukan Yasid. Tapi bukan berarti team dari
Jawa Barat atau lokasi lain di Indonesia tidak menggunakan pendekatan
klenik seperti ini. Klenik selalu menjadi salah satu alternatif
pencarian korban seperti ini.
Bukan berarti mengkritik ritual klenik, akan tetapi sebelum semua itu dilakukan, sebenarnya dengan sangat sederhana, para pemangku keselamatan publik ini harusnya memikirkan bagaimana melindungi warga, agar hal seperti ini tidak terjadi. Jangan sampai terjadi lagi di masa depan. Dari sisi logis terlebih dahulu, jangan meloncat langsung ke sisi yang belum jelas di awal.
Karena
dari sejumlah indikasi kegiatan klenik yang dilakukan, ada sebuah
kegiatan aneh yang mendekati lokasi ditemukannya Yasid, yang
menggambarkan apa yang dialami oleh Yasid, lewat sebuah mimpi yang
diceritakan, yang menceritakan bahwa Yasid jatuh di sisi kiri dari jalan
utama. Sayangnya informasi tentang mimpi ini belum berhasil dieksekusi
di lapangan karena kurangnya elaborasi logis maksimal yang memadai.
Realitasnya,
sedikit berpikir kritis saja, sebenarnya bisa menemukan sebuah protokol
keamanan bagi para pendaki gunung di negeri ini. Bukan sebuah protokol
keselamatan kuno, semata-mata, akan tetapi seiring berjalannya waktu,
para pemangku kepentingan ini harus memikirkan keselamatan warga nya
yang memang suka penthalitan naik gunung itu dengan
pendekatan yang jauh lebih modern. Sehingga kasus Yasid ini cukup
berhenti sampai di sini lagi. Tak perlu ada Yasid lain yang harus jadi
martir baru untuk mengingatkan para pemangku keamanan publik memahami
lebih detail bagaimana menyiapkan fungsi keamanan warga di lokasi
pendakian gunung sepeti ini.
Perkembangan teknologi informasi sudah sedemikian canggih, akan tetapi bahkan teknologi yang secanggih ini pun tidak sempat untuk dipikirkan oleh para pemangku kepentingan, untuk digunakan menjaga keselamatan warganya.
Kalau begitu, untuk apa mereka dipilih menjadi pemangku keselamatan warga ? Oh mungkin karena sudah membayar uang beberapa ratus ribu rupiah, untuk kampanye, kepada warga, atau untuk mendapatkan rekom Partai dengan nilai 28 Milyar atau bahkan lebih. Kalau untuk Gubernur harganya ada 100 an Milyar.
Hanya demi selembar kertas, yang kemudian memantik selembar kertas lain, yang dikeluarkan dari lembaga yang bernama KPU, yang men-sah-kan si pemilik rekom 28 Milyar itu, untuk menjadi calon Kepala Daerah. Kalau Gubernur ya minimal 100 Milyar. Menteri ? yah pasarannya 15-20 Milyar.
Rusaknya sistem politik ini tidak disadari, akhirnya bermuara dan berpengaruh, bahkan sampai kepada meninggalnya Yasid di Bukit Mongkrang. Yang oleh sementara pendaki gunung, dibilang gunung yang kecil saja. Tanpa melihat dan mengikut sertakan, Gunung Lawu yang menakutkan itu.
Gunung Lawu jauh lebih menakutkan. Karena Gunung ini bukan hanya raksasa, akan tetapi juga dipenuhi dengan jejak-jejak aneh dari masa-masa era Majapahit, atau bahkan jejak yang jauh lebih kuno lagi dari Majapahit ?
Melindungi Para Pendaki Dengan Teknologi
Tapi tak perduli apapun yang sedang terjadi, keselamatan warga harus selalu dipikirkan dengan serius, dan tidak main-main. Teknologi informasi sudah ada di tengah masyarakat saat ini. Maka tidaklah akan ada kesulitan untuk merancang sebuah protokol keselamatan bagi para pendaki gunung yang ada di seluruh Indonesia ini.
Mewajibkan penggunaan teknologi GPS untuk setiap pendaki harus menjadi protokol pertama yang tidak boleh ditunda-tunda. Setiap pendaki yang akan naik ke puncak gunung apapun di Indonesia ini, harus dipasang perangkat penjejak GPS untuk bisa memantau real time posisi mereka di manapun di sekitar Gunung, yang mereka daki. Mungkin, dengan menggunakan teknologi selain GPS juga bisa, dengan menggunakan teknologi radio, untuk proses pemantauan posisi, atau bahkan menggunakan teknologi satelit untuk memantau posisi para pendaki.
***
Para pemangku keselamatan warga (baca : Pemerintah) perlu membuat road map khusus untuk melindungi para pendaki gunung ini. Karena memang itulah tugas mereka. Dipilih untuk menduduki jabatan pemangku keselamatan warga, memang diminta untuk membantu membuat, sebuah mekanisme sistem, yang punya tujuan utama, menyelamatkan warga dari ancaman yang mungkin muncul tiba-tiba, tak terelakkan.
Kenapa hal ini penting ? Karena terkait dengan eksistensi gunung, Indonesia bukanlah negara kaleng-kaleng. Jumlah gunung berapi aktif di Indonesia saat ini ada 127 gunung, bahkan ada data yang mencatat sebanyak 139 lebih Gunung berapi aktif. Angka ini menunjukkan jumlah gunung berapi paling banyak di seluruh dunia. Tak pernah ada negara yang siap meledak sewaktu-waktu gara-gara gunung berapi selain Indonesia.
Jika Ketuhanan Yang Maha Esa itu hilang dari Pancasila, maka siapa lagi yang mampu mencegah 139 gunung berapi yang konon dipantau 24 jam aktivitasnya oleh Badan Geologi itu, meledak bersamaan. Perang mana di dunia yang lebih dahsyat dari meletusnya 139 gunung berapi aktif bersama-sama.
Dan ledakan dahsyat gunung berapi super volcano itu pernah terjadi di gunung yang hilang di Danau Toba. Letusan supervulkanik Gunung Toba yang terbesar terjadi sekitar 74.000 tahun yang lalu. Letusan dahsyat pada masa Pleistosen Akhir ini membentuk kaldera raksasa yang kini menjadi Danau Toba di Sumatera Utara. Ini merupakan letusan gunung berapi terbesar dalam 2 juta tahun terakhir. Letusan Gunung Toba ini memicu jaman es yang parah terjadi di seluruh dunia, selama kurang lebih 14 ribu tahun. Yang kemudian es mulai kembali mencair perlahan pada 60 ribu tahun yang lalu.
***
Indonesia yang menjadi link ring of fire ini, tidak akan jauh-jauh dari interaksi dengan gunung, bukan sekedar gunung berapi aktif saja. Jumlah gunung yang sudah tidak aktif juga ada lebih banyak, sekitar 400 an Gunung. Jadi total ada 500 an gunung yang ada di Indonesia yang sudah dicatat dengan baik atau paling tidak diketahui.
Tapi tunggu dulu. Sebanyak 500 gunung ini hanyalah gunung yang dikenal dan diberi nama, ada ribuan bahkan puluhan ribu gunung yang ada di Indonesia, yang bahkan tidak masuk dalam catatan 500 an lebih gunung tersebut. Masih sangat banyak gunung, yang bahkan tidak sempat diberi nama. Bahkan ada juga, gunung-gunung baru yang muncul begitu saja. Tanpa sempat diberikan nama atau dikenali dengan baik potensi nya.
Dengan jumlah sebanyak itu, gunung yang ada di indonesia, berarti ada sekian banyak, puluhan ribu gunung, yang jika tidak hati-hati didaki, akan menimbulkan potensi petaka, bagi para pendaki gunung yang jumlahnya tidak sedikit.
***
Perangkat
GPS saat ini harganya cukup murah, ada yang harganya 75 ribu, 120 ribu,
atau yang mahal puluhan juta rupiah. Tidak penting yang mana yang akan
dipilih, akan tetapi semangat yang harus muncul, adalah semangat
melindungi para pendaki gunung dengan alat pelacak yang presisi, untuk
keselamatan mereka sediri. Teknologi lain, seperti teknologi penjejak
panas tubuh para pendaki, misalnya, bisa dipasang di sekitar jalur
pendakian untuk memastikan keselamatan seluruh pendaki. Jadi teknologi
seperti ini bisa lebih bermanfaat digunakan di negera ini untuk lebih
memberikan perlindungan warga.
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) atau APBN mampu membeli dan memasang alat pengamanan para pendaki. Teknologinya sudah ada dan tidak mahal. Proses pencarian manual gaya Wanadri memang masih diperlukan, akan tetapi bukankah jauh lebih baik, jika menggunakan teknologi penjejak dan pemantau posisi yang murah itu.
Pemetaan Wilayah Pendakian Gunung
Akan tetapi proses perencanaan keselamatan warga tidak hanya berhenti di situ saja. Pengamanan warga dengan perangkat pemantau posisi ini memang penting, akan tetapi yang lebih penting adalah proses pemetaan wilayah di pendakian. Sebelum sebuah gunung tuntas dipetakan, maka pendakian dilarang dilakukan, misalnya dibuat sebuah kebijakan seperti itu.
Dengan pemetaan wilayah pendakian gunung, maka titik jurang yang membahayakan para pendaki gunung dengan segera bisa menjadi catatan penting untuk tidak dilanggar oleh para pendaki gunung.
Bukit Mongkrang yang dianggap oleh sementara pendaki adalah lokasi yang biasa saja, ternyata menyimpan titik mengejutkan jurang tak terlihat yang diduga membuat Yasid jatuh dan tak tertolong lagi.
Proses pemetaan lokasi seluruh wilayah gunung bukanlah sebuah tugas yang sederhana. Karena wilayah gunung itu sangatlah kompleks. Pemetaan lahan hijau dan lahan merah kuning di lokasi perkotaan saja gagal dilaksanakan dengan lengkap, apalagi memetakan sebuah gunung.
Tahap pertama melakukan pemertaan 500 gunung terlebih dahulu. Pemetaan dilakukan dengan detail dan lengkap. Seperti yang dilakukan selama ini oleh Badan Geologi. Akan tetapi Badan Geologi melakukan pemetaan dalam rangka menyimpan dan mengenali berbagai sumber daya mineral yang ada di seluruh Indonesia. Pemetaan yang ada bagi keselamatan pendaki gunung, lebih sederhana, dalam bentuk pengawasan seluruh lokasi yang ada gunung. Di mana letak jurang, di mana ada tanjakan dan lembah, di mana ada sungai dan mata air, di manakah lokasi hutan dan juga letak bukit, goa, dan seluruh entits hutan yang lain.
Mungkin BUMN Seperti Perhutani dan PTPN di Indonesia sudah melakukan hal ini. Demikian juga otoritas pengelola resmi wilayah Gunung, seperti BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), Balai Besar Taman Nasional (seperti TNGGP, TNBTS, TNGR), atau Perhutani/Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
BKSDA (Sumatera Barat) misalnya menjadi organisasi pemerintah yang pernah Menutup Gunung Marapi, Singgalang, dan Tandikat karena alasan keamanan dan konservasi.
Balai Besar Taman Nasional (BBTNGGP, TNBTS, TNGR) misalnya pernah melakukan penutupan jalur pendakian seperti Gunung Gede Pangrango, Semeru, dan Rinjani
Perhutani/LMDH pernah menutup jalur seperti Gunung Slamet, Gunung Buthak, Gunung Panderman, dan Gunung Bokong
Pemerintah
Daerah/Desa juga serig melakukan penutupan berdasarkan kewenangan yang
ada pemerintah. Misalnya bisa juga dikoneksikan dengan Pokdarwis
(Kelompok Sadar Wisata) atau lembaga desa untuk gunung-gunung setempat,
misalnya.
Penulis adalah :
Professional,
Telecomunication Engineer, Ketua UKM Pecinta Alam Telkom University
Bandung pada Era 1990-an. Dari UKM ini kemudian lahir Astacala, yang
belakangan berkembang menjadi Yayasan Astacala, Astacala Foundation.



0 Komentar